Oleh: Jauhari | April 15, 2013

CERPEN “PANGGILAN QALBU”

Pengarang: Jauhari

 “Hai Mir, kayaknya penampilan elo hari ini enggak banget deh, kita shopping yuk! Sekalian refreshing.” ajak Dini kepada Mirna, sahabatnya, sepulang kuliah. Sepertinya mata kuliah Ekonofisik yang diajarkan pak Mangkus tadi membuat kepala Dini pusing. Dini memang suka ekonomi, tapi digabung dengan fisika? Dini tidak pernah membayangkan sebelumnya.

“Ehm… baju gue emang kusut, abis lupa nyetrika nih Din.” jawab Mirna sedikit malu-malu. ”Tapi tawaranmu boleh juga tuh, gimana kalo kita ajak temen-temen yang laen?” tambahnya.

“It’s ok honey bunny, gue ajak temen-temen yang laen dulu yach.” sahut Dini retoris. Lalu Dini bergegas mengajak teman-temannya yang lain. Ternyata yang ikut adalah Siska dan Nurfa.

Mereka berempat pun segera menuju menyetop angkot yang tidak jauh dari mereka berdiri untuk membawa mereka menuju pusat perbelanjaan terbesar di kota Bandung. Angkot yang sudah cukup penumpang itu pun segera melaju tanpa ragu. Gedung fakultas tadi tempat mereka kuliah lambat laun menghilang dari pandangan.

Begitu sampai, setelah membayar ongkos ke supir angkot, mereka pun masuk pusat perbelanjaan tersebut. Mereka langsung menuju tempat penjualan pakaian. Mereka saling menimang mana yang cocok. Mata Mirna tiba-tiba tertuju pada tempat penjualan kerudung.

“Baju ini cocok deh buat kamu Mir, modelnya trendi banget.” ujar Siska pada Mirna. Mirna yang lagi konsentrasi memperhatikan kerudung, tidak menghiraukan perkataan Siska. Merasa Mirna tidak menjawab pertanyaannya, Siska bertanya lagi.

Kok elo bengong sih Mir, lagi mikirin apa hayoo?” tanya Siska dekat telinga Mirna.

Mirna yang baru ngeh sedikit kaget namun bisa segera menguasai dirinya sendiri. Mirna pun menjawab, “Ga mikirin macem-macem kok Sis, tadi elo bilang apa?”

“Cuma nawarin baju ini, soalnya kayaknya elo kebingungan milih-milih pakaian deh.” jawab Siska.

Thanks Sis.” jawab Mirna.

Selama berbelanja itu, Mirna memikirkan dia sebenarnya ingin memakai kerudung, tetapi entah kenapa dia merasa tidak percaya diri. Dia memang memakai baju yang tertutup, namun sedikit ketat sehingga merasa tidak cocok. Dia ingin memulainya, namun entah kapan.

Sepulangnya dari belanja, mereka pun pulang. Namun, tiba-tiba Mirna ingat sesuatu. “Eh jam 2 kan gue ada janji sama pacar gue si Doni, sekarang udah jam 2 kurang 12 menit. Sorry nih, gue gak bisa pulang bareng kalian.” kata Mirna kepada mereka.

“Ya udah terserah elo aja deh Mir. Titi dije, ati-ati di jalan.” kata Nurfa mewakili mereka.

So pastinya.” jawab Mirna.

Tepat jam 2, Mirna pun turun. Lalu mencari Doni yang ternyata belum datang. Lama menunggu, dia merasa bosan bercampur kesal. Di seberang jalan dia melihat butik busana muslimah. Dia berpikir, mungkin beli saja dulu, siapa tahu dipakai, bukankah sebentar lagi bulan ramadhan? Dia pun ke butik tersebut dan membeli beberapa kerudung dan jilbab. “Kalau gue ga mau-mau, buat ibu juga okelah.” gumamnya. Sepulangnya dari butik tersebut, dia akhirnya melihat Doni.

Sorry yang, aku telat nih, adikku mendadak sakit. Jadi aku mengantarkannya dulu dan belum sempet memberi tahu kamu.” kata Doni memelas.

“Harusnya kamu bilang dulu dong, sms kek. Terus adikmu gimana?” cibir Mirna.

“Iya, iya, sorry, abis ngedadak banget sampe ortu panik. Jadi aku gak sempet beri tahu kamu. Kata dokter sih adikku udah gak kenapa-napa. Cuma alergi doang.” kata Doni.

“Ya sudah, aku maafin kamu, tapi jangan diulangi lagi telatnya.” ujar Mirna manja.

“Nah gitu dong yang. Swear aku gak akan telat lagi.” kata Doni.

Mereka pun melanjutkan ‘pertemuannya’ itu dengan bersenda gurau dan jalan-jalan menghabiskan waktu.

*                                     *                                                  *

“Pengumuman, berhubung semester depan kita ada mata kuliah pendidikan agama Islam, dan salah satu kegiatannya tutorial, maka untuk mempersiapkannya, ada kegiatan Mabim alias Masa Bimbingan. Daftar kelompok dan pembimbingnya ada pada saya.” seru Ketua Kelas di depan teman-temannya, termasuk Mirna. Kelas pun jadi riuh-rendah.

Elo dapat kelompok sama siapa Mir?” tanya Dini pada Mirna.

Gue dapat kelompok sama mereka nih.” jawab Mirna seraya menunjuk pada teman-teman kelompoknya.

“Kayaknya cuma elo yang misah Mir, gue bareng sama Nurfa dan Siska juga.” kata Dini.

“Ya mau gimana lagi?” kata Mirna.

*                                     *                                                  *

Masa bimbingan pun dimulai. Mirna dan teman-teman kelompoknya duduk bersimpuh menghadapi teh Rufaidah, pembimbing mereka. Hari itu mereka saling berkenalan dan mengaji bareng.

“Pada saat mata kuliah PAI nanti, ada kegiatan tutorial mirip yang kita lakukan sekarang tetapi disatukan dalam satu tempat, juga tes baca Al-Quran, dan tes pengetahuan dan pemahaman Islam. Untuk mempersiapkannya, untuk itulah diadakan kegiatan ini. Tadi kita sudah mengaji dan mengkaji Al Quran, lalu sekarang teteh akan memberikan materi sebagai dasar nanti.” kata teh Rufaidah dengan lembut.

Mirna dan teman-temannya mengangguk tanda setuju.

“Pada umumnya, kita mempelajari Islam langsung ke bab shalat karena umumnya sudah Islam dari lahir, namun sebenarnya syahadat juga perlu dipelajari. Bukannya syahadat ulang, tetapi memahami maknanya karena syahadat merupakan fondasi awal rukun Islam. Sekarang kita pelajari. Syahadat merupakan pengakuan bahwa tiada illah selain Allah SWT dan Muhammad SAW adalah utusan Allah. Dengan mengucapkan syahadat, berarti seseorang itu telah masuk Islam dan menandatangani kontrak secara tidak terlulis bahwa segala ajaran Islam adalah benar dan wajib diamalkan secara kaffah. Ajaran-ajaran Islam bersumber dari Al Quran, Hadits, dan ijtihad para ulama.” uraian teh Rufaidah segera dicerna kelompok tersebut. Mirna tercenung mendengarnya.

“Sebagai contoh, teteh akan mengupas masalah menutup aurat. Menutup aurat itu wajib bagi laki-laki maupun perempuan. Bagi kita kaum perempuan, seluruh anggota badan kecuali muka dan dua belah tapak tangan adalah aurat. Jadi pakailah pakaian yang pantas dan jilbab. Jilbab dalam Islam, diperintahkan untuk dipakai oleh wanita. Hukumnya wajib. Dalam Qur’an surat An-Nur ayat 30-31 berbunyi Katakanlah kepada perempuan yang beriman hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa tampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung (Jilbab) ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka ata ayah suami mereka atau putra-putra mereka atau putra-putra suami mereka atau saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau perempuan-perempuan Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak

mempunyai keinginan terhadap perempuan atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” tambahnya.

Sebagai perempuan yang tidak berkerudung sama sekali, Mirna terenyuh. Dia memang sering membaca Al Quran, tetapi makna di dalamnya belum pernah coba dia pahami. Menyadari ada satu mahasiswi yang dia hadapi tidak berkerudung sama sekali, teh Rufaidah mencoba menetralisir keadaan. Dia berkata,

“Teteh sebelumnya minta maaf, bukan maksud teteh menyinggung, namun teteh cuma ingin agar kalian bukan hanya bahagia di dunia, namun semoga di akhirat juga.”

“Tidak apa-apa kok teh”, jawab Mirna. “Saya justru harus berterima kasih kepada teteh yang telah memberikan pemahaman yang sebelumnya belum pernah saya dapatkan” tambah Mirna.

Teh Rufaidah pun tersenyum. “Alhamdulillah.”.

Seusai Mabim hari itu, Mirna mendekati teh Rufaidah dan berkata,

“Teh, saya hari ini mendapat pencerahan dari teteh, saya sebenarnya ingin sekali berkerudung, tapi saya merasa malu. Saya ingin berkonsultasi pada teteh lebih banyak lagi.” kata Mirna.

“Boleh, anti bisa main ke kostan teteh, dekat kok. Lewat gang Cempaka. Kalau mau, kita pulang bareng bagaimana?” tanya teh Rufaidah.

“Bisa teh, kebetulan saya juga mau ke teman saya untuk mengerjakan PR di gang tersebut.” jawab Mirna.

*                                     *                                                  *

Sore itu di kostan teh Rufaidah. Mirna berkonsultasi pada teh Rufaidah.

“Teh, saya sejak lama ingin berkerudung, namun hati saya ini belum mantap. Bisa teteh jelaskan supaya saya lebih bisa memantapkan hati saya?” tanya Mirna

“Baik, bisa. Semua wanita tentu ingin dirinya cantik kan? Banyak wanita berusaha cantik dengan menggunakan pakaian yang cenderung bebas. Ketat ataupun longgar tapi transparan ataupun belahan. Namun itu mengundang satu ancaman, yaitu diskriminasi. Wanita jadi tidak dihargai berdasarkan kemampuan intelektualnya, namun berdasarkan jasmaninya. Lalu bagaimana mengatasinya? Islam sudah menyediakan jawabannya yaitu jilbab. Kenapa? Karena menyediakan dua kelebihan sekaligus. Bagi wanita yang jasmaninya kurang bagus, jilbab akan menutupi kekurangannya dengan sempurna, sedangkan bagi wanita yang dianugerahi fisik yang bagus, mereka akan terlindungi dari ancaman pelecehan.” tutur teh Rufaidah.

“Dengan demikian, wanita bisa lebih mengutamakan kemampuan intelektualnya daripada kecantikan fisiknya. Dalam Qur’an surat Al-Ahzab 33. yang berbunyi ‘Hai nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri orang-orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ Dalam hal ini, jilbab adalah pakaian yang memang harus dikenakan oleh wanita muslim. Untuk lebih mudah dikenal sebagai seorang muslimah. Dan merupakan pakaian pembeda antara wanita kafir dan wanita muslim.” tambahnya lagi.

“Oh.. begitu ya teh. Sekarang saya paham dan saya jadi merasa lebih mantap sekarang. Insya Allah saya akan memulainya begitu pulang.” kata Mirna.

“Alhamdulillah. Teteh mendoakan supaya anti tetap istiqomah.” kata teh Rufaidah.

“Anti siapa teh? Saya kan Mirna teh, bukan Yulianti.” sahut Mirna bertanya-tanya.

“Anti itu dari bahasa Arab artinya kamu untuk perempuan. Itu supaya tidak asing dengan bahasa Quran dan lebih paham. Bukankah Al Quran itu dibaca agar dipahami dan diamalkan isinya? Isi Al Quran itu semuanya benar dan jujur.” jawab teh Rufaidah.

“Sekarang saya mengerti teh. Saya bertekad akan berubah. Semoga pacar saya mendukung.” kata Mirna.

“Pacar? Anti punya pacar?” tanya teh Rufaidah, setelah itu dia menghela nafas. “Sesungguhnya dalam Islam, diatur tentang tatacara pergaulan. Antara laki-laki dengan perempuan. Tatacara pergaulan laki-laki dan perempuan, tidak seharusnya sebebas-bebasnya seperti pacaran, karena kecenderungan seorang laki-laki dan perempuan. Jika mereka sudah bergaul, maka tidak lain adalah pergaulan yang di luar batas. Dalam Islam diatur masalah Ikhtilath atau bercampur baur. Karena sesungguhnya Rasulullah pernah bersabda ‘Aku melihat seorang pemuda dan seorang pemudi dan setan belum mengamankan dari keduanya.’ Atau dalam riwayat lain ‘Keduanya belum aman dari fitnah.’. Sesungguhnya, tidaklah seorang muslim yang melakukan ikhtilath, kecuali setan yang akan mengganggunya.” tegas teh Rufaidah.

“Be..betulkah teh? Bukankah cinta adalah fitrah manusia? Kenapa pacaran harus dilarang?” tanya Mirna yang raut wajahnya berubah setelah mendengar perkataan teh Rufaidah tadi.

“Kita selama ini salah mendefinisikan tentang cinta. Cinta sebenarnya adalah cara unik yang diciptakan Allah agar setiap orang mendapatkan jodohnya. Perhatikan wanita ataupun pria yang maaf, kurang elok parasnya, tetapi bisa mendapatkan pasangan yang lebih baik. Itu karena cinta. Cinta membuat segalanya terasa indah, meskipun mungkin fatamorgana. Namun, cinta bersifat tidak tahan lama. Menurut penelitian seorang ahli, cinta umumnya hanya bertahan empat tahun. Lalu apa yang menyebabkan pasangan bisa bertahan? Yaitu rasa sayang. Bukankah rasa sayang kita kepada ayah, ibu, saudara, dan teman tidak akan pernah berakhir? Cinta memang fitrah setiap manusia, tapi ungkapkan secara syar’i. Buat apa pacaran kalau cuma bertahan sebentar? Namun itu adalah kembali pada pilihan anti sendiri.” jawab teh Rufaidah.

“Ini memang berat bagi saya teh. Saya akan berusaha” ucap Mirna.”Oh ya teh, satu pertanyaan terakhir. Apakah benar wanita itu tidak boleh bersalaman dengan laki-laki?” tambah Mirna.

“Ehm.. Dalam hadits, dikatakan bahwa Rasulullah itu berkebiasaan berjabat tangan atau bersalaman. Tetapi Rasulullah tidak pernah berjabat tangan dengan wanita. Dan para sahabat pun, tidak pernah berjabat tangan dengan wanita. Dengan contoh seperti itu, maka kita harus mengikuti aturan-aturan yang dilakukan oleh Rasulullah. Seorang wanita itu adalah mahluk yang mulia. Maka, muliakanlah wanita dengan kemuliaan akhlak wanita itu sendiri. Maka wanita, akan menjadi benar-benar seorang yang dimuliakan.” pungkas teh Rufaidah.

Karena sudah sangat sore, Mirna minta undur diri pada teh Rufaidah.

*                                             *                                                  *

Malam itu, Mirna sengaja memasang weker supaya bisa shalat tahajud. Ternyata memang dia bangun. Dia lalu melaksanakan shalat tahajud lalu dilanjutkan dengan shalat istikharah. Dia berdo’a mohon petunjuk kepada Allah SWT tentang apa yang harus dilakukannya terhadap pilihan hidupnya. Setelah itu, dia tidur. Dalam tidurnya, dia melihat dirinya berubah. Tampak mempesona dengan busana muslimahnya. Udara di sekelilingnya pun harum. Sebangunnya dari tidur, dia shalat subuh dan mandi terus memakai pakaiannya yang dirasa mirip dengan mimpinya. Dia lalu mematut diri di depan cermin. Tersenyum lalu berkata, “Mirna, inilah pilihanmu. Pilihan yang terbaik. Tataplah masa depanmu. Semangat!! Apapun yang terjadi.”. Tiba-tiba HP-nya berdering tanda SMS masuk. Ternyata Doni mengajaknya jalan-jalan di hari libur itu.

*                                             *                                                  *

“Kamu berubah Mir. Gak seperti yang dulu lagi.” kata Doni.

“Aku memang sejak dulu ingin berubah Don, hanya sekarang aku bisa melakukannya.” ucap Mirna. Mirna terdiam sejenak. Semilir angin menyejukkan kepalanya yang sedang berpikir keras tentang apa yang harus diucapkannya pada Doni yang telah cukup lama menjadi kekasihnya. Dia berdoa dalam hati, “Ya Allah, kuatkan hambamu ini.”.

“Don, aku harus bicara denganmu bahwa sebenarnya aku masih mencintaimu, namun sepertinya hubungan kita yang demikian bukanlah jalan yang terbaik.” ucapnya.

“Maksudmu?” tanya Doni.

“Em….. aku ingin agar kita bisa saling mencintai tanpa pacaran.” kata Mirna.

“Maksudmu kita putus begitu Mir?” tanya Doni lagi.

“Mungkin ini terasa pahit bagimu, namun kalau kamu mengetahui, kamu akan lebih bisa mengerti.” jawab Mirna.

“Tak ku sangka dirimu tega Mirna. Setelah hubungan yang telah kita jalin sekian lama, kau putuskan begitu saja! Atau jangan-jangan kamu telah punya pacar pengganti diriku?! Sudahlah kamu memang berubah dan itu aku gak suka!” tandas Doni, “Aku akan pergi. Lupakan saja diriku!” tambahnya.

“Subhanallah Don, kamu salah. Dengarkan dulu penjelasanku. Doni… !” seru Mirna, namun Doni bergegas menuju motornya lalu tancap gas.

Kini tinggal Mirna di ujung jalan itu. Menatap Doni yang pergi meninggalkan dirinya. Tak terasa, air mata meleleh membasahi pipinya. Namun dia berusaha tegar menghadapi kenyataan ini. “Ya Allah…” ucapnya lirih. Dia tidak ingin larut dalam kesedihan. Diapun bergegas pulang.

*                                             *                                                  *

Mirna merasa bahwa mungkin sahabatnya, Dini bisa membantu dirinya. Waktu menunjukkan pukul 13.00 WIB. “Ya, aku akan ke Dini, setidaknya bebanku tidak akan terlalu berat.” gumamnya, “Jam segini biasanya Dini lagi di kafe ‘Break’. Aku akan ke sana.”, gumamnya lagi. Dia pun segera ke kafe tersebut.

Sesampainya di sana, ternyata selain Dini juga ada teman-temannya yang lain.

“Duh Mirna, penampilan elo beda banget nih. Kaya akhwat getho.” celetuk Dini.

“Saya cuma ingin mengamalkan ajaran agama saya secara baik Din. Kalau tidak, apa bedanya dengan penganut agama lain?” ucap Mirna.

“Tapi menurut gue sih, penampilan elo norak banget deh. Elo tuh cocoknya pake baju kaya kita-kita. Ketat. Cewek mana coba yang gak suka disebut seksi? Apalagi kerudung elo, lebar dan panjang banget deh. Gue sih bakalan kepanasan.” tanya Nurfa yang juga ada di situ.

“Iya tuh.” timpal Dini dan Siska.

“Astaghfirullahal’azhim. Kalian tidak boleh berpikir seperti itu. Kita sebagai perempuan harus bisa menutup aurat. Menjaga diri. Bukankah kita beragama Islam?” ucap Mirna.

“Di KTP gue sih Islam getho. Tapi peduli amat. Yang penting happy.” jawab Siska.

Belum sempat Mirna menyanggah perkataan teman-temannya, tiba-tiba datang Bobi dan Jeki, teman segeng mereka. “Hai guys!” sapa mereka. Lalu mereka menyalami semua temannya di situ dengan salam khas mereka yaitu berputar-putar. Namun, saat mau menyalami Mirna, Mirna menangkupkan tangannya di depan dadanya. Bobi heran dengan sikap Mirna. Jeki pun demikian.

Elo kenapa sih Mir? Penampilan elo juga aneh banget.” tanya Jeki.

“Saya ingin berubah kawan. Kita mengakui Islam sebagai agama kita, tapi kenapa tidak kita amalkan?” jawab Mirna.

Elo aneh, gak asik lagi.” kata Bobi

Elo temen macam apa sih Mir? Pakean elo udah gak kompak lagi ama kita. Bobi ngajak salaman tapi elo gak mau. Elo kayak dari planet laen aja.” seru Dini.

“Bukan begitu kawan-kawanku. Saya tetap sahabat kalian kok.” ucap Mirna.

Udah deh, elo itu udah beda sama kita. Come on guys, kita pergi!” kata Siska.

“Dini, Siska, Nurfa, Bobi, Jeki, dengarkan dulu penjelasanku!” seru Mirna.

Teman-temannya lalu pergi meninggalkan Mirna sendiri. Teman-temannya yang dia harap bisa membantunya ternyata justru semakin membuat batinnya sedih. Mirna lalu memutuskan untuk pergi ke masjid terdekat untuk menenangkan pikirannya yang kini gelisah. Berdo’a pada Allah akan membantunya tetap tabah. “Ini adalah pilihanku, aku harus tetap konsisten” ucapnya lirih.

*                                             *                                                  *

Besok adalah bulan Ramadhan. Mirna menyendiri di kamar kostannya. Bermuhasabah diri tentang apa yang telah dilakukannya. Dia sedih karena teman-temannya meninggalkannya di saat dia membutuhkan mereka. Di kuliah pun mereka tidak mau bertegur sapa dengannya, sehingga membuatnya mencari teman baru. Bahkan Doni yang sekarang jadi mantan pacarnya telah membencinya pula. Selama ini dia menganggap mereka adalah teman-temannya dalam suka maupun duka, tetapi ternyata teman-teman segengnya hanya mau senangnya saja. Lalu dia memutuskan untuk shalat hajat, memohon kepada Allah SWT agar hari ini lebih baik daripada kemarin, dan hari esok lebih baik daripada hari ini. Juga agar teman-temannya diberi petunjuk oleh Allah SWT. Seusai shalat hajat, dia meraih HP-nya, lalu mengirimkan SMS minta maaf sebelum Ramadhan kepada teman-temannya, tak lupa dia kirimkan kepada Dini, Siska, Nurfa, Bobi, dan Jeki. Mereka tidak memberikan balasan, namun teman-temannya yang lain membalasnya. Perasaannya sudah lega setelah kemarin bertemu teh Rufaidah dan kawan-kawan lain yang berusaha membesarkan hatinya.

 *                                            *                                                  *

Enam belas hari sudah Mirna shaum di bulan ramadhan ini, dia bersyukur bisa melewatinya dengan baik. Shaumnya belum bolong sekalipun. Tilawah Al Qurannya pun rajin. Tak lupa dia sempatkan membaca terjemahannya dan sesekali tafsirnya karena dia ingin mengamalkannya meskipun sedikit demi sedikit.

Pagi itu, Mirna membaca Al Quran untuk mengejar targetnya selama bulan Ramadhan kali ini, yaitu dua kali khatam. Sedang asyik-asyiknya tilawah, tiba-tiba pintu kostannya diketuk.

“Assalaamu’alaikum Mirna…!!” terdengar salam yang disuarakan serempak.

“Wa’alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh.” jawab Mirna. Mirna merasa suara-suara itu berasal dari orang yang tidak asing baginya. “Mungkinkah mereka….?” dalam hatinya dia bertanya-tanya. Lalu dia segera membukakan pintu.

Begitu pintu dibuka, apa yang tadi dia duga ternyata benar adanya. Yang datang tidak lain adalah teman-temannya, teman-teman segengnya dulu bahkan mantan pacarnya yaitu Doni! Dan yang paling membuat Mirna terkejut bercampur gembira adalah penampilan mereka yang telah berubah! Ya, berubah. Dini, Nurfa, dan Siska tampak anggun dengan baju lengan panjang dan rok panjang serta rambut mereka tertutup kerudung yang sangat rapih. Sedangkan Bobi dan Doni memakai baju koko. Sementara Jeki walau tidak memakai baju koko, namun pakaiannya sopan dengan kemeja berlengan panjang dan juga celana panjangnya. Hanya satu kalimat yang terucap dari bibir Mirna melihatnya, Subhanallah!

Mirna lalu keluar kostannya. Dini serta merta memeluk Mirna. Juga Siska dan Nurfa.

“Mirna, maafkan kami. Kami sekarang sadar bahwa engkaulah sahabat kami yang paling baik.” ucap Siska.

“Iya Mir, kami sungguh menyesal.” timpal Bobi dan Jeki hampir bersamaan.

“Sudahlah, saya sudah memaafkan kalian kok. Kita kan sudah berteman sekian lama.” ujar Mirna.

“Aku tidak semestinya menyalahkanmu Mir. Meskipun pahit, namun merupakan jalan yang terbaik untuk kita.” ucap Doni.

“Sudahlah Don, namun kita masih bisa berteman kan?” tanya Mirna pada Doni.

“Iya Mir, tentu bisa. Insya Allah.” jawab Doni.

“Alhamdulillah.” ucap Mirna.

“Kamu memang benar-benar sobat kami Mir.” kata Nurfa.

“Saya merasa terharu melihat kalian telah berubah. Saya jadi ingin tahu.” ucap Mirna.

Teman-temannya Mirna dan juga Doni lalu menceritakan bahwa mereka pada bulan Ramadhan ini mengikuti pesantren kilat. Awalnya itu mereka lakukan karena terpaksa sebab orangtua mereka sudah merasa jengah dengan kelakuan mereka yang kacau sehingga menyuruh mereka ikut. Namun setelah mereka bisa beradaptasi dengan pesantren kilat tersebut, ternyata mereka justru menjadi senang. Mereka adalah orang-orang yang kering akan ilmu agama dan perhatian orangtua. Pesantren kilat telah menghilangkan dahaga mereka akan kebutuhan spiritual. Mereka lambat laun berubah. Mereka pun jadi lebih bisa memahami apa yang telah lebih dulu dilakukan Mirna. Oleh karena itu, sehari setelah mereka selesai, mereka langsung bersepakat untuk bertemu Mirna untuk minta maaf. Semua itu membuat Mirna terharu dan berkali-kali bertahmid memuji-Nya karena nikmat yang kini dia raih. Pilihannya untuk istiqamah di jalannya kini menuai hasilnya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: