Oleh: Jauhari | Desember 2, 2012

Arti kalimat Taqobbalallahu Minna Wa Minkum?

Kata “minal aidin walfaizin” itu sebenarnya sebuah ungkapan harapan atau doa. Tapi masih ada penggalan yang terlewat. Seharusnya lafadz lengkapnya
adalah “ja’alanallahu wa iyyakum minal aidin wal faizin”, artinya “semoga Allah menjadikan kami dan anda sebagai orang-orang yang kembali dan beruntung (menang)”. Ungkapan ini adalah salah satu ungkapan yang seringkali diucapkan pada hari raya fithri. Sama sekali tidak bersumber dari sunnah nabi, melainkan merupakan ‘urf (kebiasaan) yang ada di suatu masyarakat.

Makna yang terkandung di dalamnya sebuah harapan agar Ramadhan yang telah kita jalani benar-benar bernilai iman dan ihtisab, sehingga kita saling mendoakan agar dikembalikan kepada kesucian, dalam arti bersih dari dosa-dosa. Kembali seperti awal mula kita dilahirkan oleh ibu kita masing-masing, putih, bersih tanpa dosa. Itulah makna kembali (aidin). Sedangkan makna faizin adalah menjadi orang yang menang atau beruntung. Menang karena berhasil mengalahkan hawa nafsu, sedangkan beruntung karena mendapatkan pahala yang berkali lipat dan dimusnahkan semua dosa. Kalau melihat lafadz ungkapan seperti ini, nampaknya yang layak mendapatkannya hanyalah orang-orang yang sukses dalam menjalani Ramadhan dengan benar. Sedangkan mereka yang lalai, meninggalkan puasa atau tidak merasakan nikmat ibadah di bulan Ramadhan, rasanya kurang pas mengungkapkan lafadz seperti ini, bukan?

Di setiap negeri muslim, ungkapan-ungkapan ini bisa saja sangat berbeda,
tergantung kreatifitas masyarakatnya sendiri. Namun bila tidak dicontohkan
oleh Rasulullah SAW, bukan berarti memberikan ucapan yang semikian menjadi terlarang atau haram. Sebab umumnya para ulama mengatakan bahwa masalah ini tidak termasuk perkara ritual ubudiyah, sehingga tidak ada larangan untuk mengungkapkan perasaan dengan gaya bahasa kita masing-masing. Kira-kira sama halnya dengan corak model pakaian yang kita kenakan sehari-hari. Tiap negeri muslim pasti punya corak dan model yang berbeda dengan yang lainnya. Dan keberagaman itu tidak mencerminkan derajat ketaqwaan dan keiltizaman mereka terhadap sunnah nabi. Sebab masalah corak dan potongan busana tidaklah merupakan ketetapan baku dalam syariat Islam. Bahwa Rasulullah SAW diriwayatkan pernah mengenakan pakaian dengan model potongan tertentu, tidaklah sampai kepada kesimpulan bahwa yang tidak berpakaian dengan model potongan beliau menjadi ahli bid’ah. Sedangkan bersalam-salaman memang tidakada perintah secara khusus untuk dilakukan pada hari raya fithri. Namun secara umum, bila dua orang muslim bertemu, bersalaman adalah hal yang dianjurkan. Jadi ketika kita berkunjung ke rumah teman atau famili, tentu saja ketika bertemu kita umumnya melakukan salaman.

Dari Al-Barra’ bin ‘Azibra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Bila dua orang muslim bertemu lalu mereka saling bersalaman dan memuji Allah SWT serta meminta ampun kepada-Nya, maka keduanya diampuni sebelum keduanya berpisah. (HRAbu Daud).

Dari Anas bin Malik ra.berkata bahwa para sahabat nabi SAW bila bertemu, mereka saling bersalaman. Dan bila datang dari perjalanan mereka saling berpelukan.

Dan itu saja sudah cukup, tidak perlu lagi mengadakan upacara khusus untuk bersalaman hingga membuat ular yang panjang. Sebab memang tidak ada perintah secara khusus untuk melakukannya. Dan kalaupun masih ingin bersalaman agar bisa rata pada setiap orang, tidak harus dilakukan dalam kesempatan lebaran saja. Sebab anjuran untuk bersalaman tidak terkait dengan suasana lebaran saja, melainkan dalam setiap kesempatan.

Di antara sekian banyak ungkapan atau ucapan selamat (arab: tahni’ah) dalam suasana hari ‘Ied Al- Fithr, nyaris semuanya tidak ada riwayatnya yang berasal dari Rasulullah SAW. Kecuali lafadz taqabbalallahu minaa wa minka, yang maknanya, “Semoga Allah SWT menerima amal kami dan amal Anda.” Namun riwayat yang menyebutkan hal ini oleh banyak ulama tidak lepas dari kritik. Salah satunya adalah Al-Baihaqi yang mendhaifkannya. Beliau membuat satu bab khusus dalam kitabnya, As-Sunan Al-Kubra, dinamai bab itu dengan “Bab apa-apa yang diriwayatkan tentang ucapan sesama orang-orang pada hari ‘Ied: taqabbalallahu minaa wa minka.” Di dalam bab tersebut, Al-Baihaqi menyebutkan banyak hadits yang berisikan lafadz tersebut, namun beliau mendhaifkan hadits-hadits itu. Sebagai gantinya beliau menuliskan sebuah riwayat yang bukan hadits dari Rasulullah SAW, melainkan hanya riwayat yang menjelaskan bahwa Khalifah Umar bin Abdul Aziz mendiamkan ungkapan tersebut.

Bahwa Adham maula Umar bin Abdil Aziz berkata, ”Dahulu kami mengucapkan kepada Umar bin Abdil Aziz pada hari ‘Ied, “taqabbalallahu minaa waminka, ya amiral mukminin”, maka beliaupun menjawabnya dan tidak mengingkarinya. (Lihat As-Sunan Al-Kubra, oleh Al-Baihaqi jilid 3 halaman 319).

Tapi sebagaimana kita ketahui bersama, meski sebuah hadits itu dianggap dha’if, tapi selama tidak sampai tingkat kedhaifan yang parah, masih bisa dijadikan landasan amal dalam hal-hal yang bersifat keutamaan. Maksudnya, meski dha’if tetapi tidak palsu, jadi hanya lemah periwayatannya tetapi tetap hadits juga. Dan jumhur ulama pada umumnya bisa menerima hadits dha’if asal tidak terlalu parah, paling tidak untuk sekedar menjadi penyemangat dalam keutamaan amal-amal (fadhailul a’mal). Apalagi bila kita merujuk kepada landasan syar’i tentang pengucapan selamat kepada seseorang, yang dalam bahasa arab disebut dengan istilah tahni’ah.

Sebenarnya syariat Islam punya landasan syar’i secara umum. Yaitu yang bersumber dari peristiwa diterimanya taubat seorang sahabat nabi SAW, yaitu Ka’ab bin Malik. Saat Allah mengumumkan bahwa taubatnya diterima, berduyun- duyun para sahabat yang lain bahkan termasuk Rasulullah SAW ikut
memberikan ucapan selamat. Sekedar menyegarkan ingatan, sahabat Ka’ab bin
Malik adalah salah satu di antara mereka yang membolos tidak ikut perang Tabuk. Lalu sebagai hukumannya, beliau diboikot untuk tidak boleh diajak berbicara bahkan diasingkan selama beberapa lama. Setelah selesai masa hukumannya, Allah SWT kemudian menerima taubatnya. Saat itu kemudian Rasulullah SAW pun ikut memberikan ucapan selamat. Ketika aku mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW, beliau sambil menurunkan
wajahnya karena bahagia bersabda, ”Berbahagialah dengan hari terbaik yang melawatimu semenjak kamu dilahirkan ibumu.” (HR Bukhari). Maka ucapan
selamat itu datang dari mulut nabi SAW sebagai ungkapan ikut berbahagia
yang sedang dirasakan oleh Ka’ab saat itu. Dan sebenarnya, siapapun sah-sah
saja mengungkan rasa turut berbahagia dengan beragam ungkapan, tanpa harus diatur-atur secara baku. Sebagaimana setiap orang dibolehkan mendoakan temannya dengan lafadz yang disukainya. Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber: rubrik konsultasi di eramuslim yang diasuh oleh Ahmad Sarwat, Lc.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: