Oleh: Jauhari | Februari 14, 2012

MEMBONGKAR TABIR HARI VALENTINE

14 Februari, nuansa romantisme semakin kental, baik di media cetak ataukah media elektronik, hampir semuanya mengekspos acara ini melalui program Valentine’s Day. Apalagi yang namanya diskotek, hotel mewah, dan klub-klub malam. Masyarakat dibuat sibuk untuk berpartisipasi merayakannya. Tidak habis pikir mereka memaksakan diri membeli coklat, bunga mawar, atau benda yang disukai oleh kekasihnya. Dan yang paling menyedihkan mereka tak tahu hal itu bisa menjerat para pelakunya dalam lingkaran dosa besar. Keberhasilan propaganda perayaan Valentine’s Day ini tentunya tak lepas dari andil sebagian besar media massa dunia, dan kecanggihan teknologi informasi dalam rangka mengokohkan sistem kapitalisme-sekularisme.

Sobat, sudah saatnya kita mengetahui asal-usul pesta ini. Meski pada tanggal 14 Februari seluruh dunia pesta cinta, tapi bukan berarti pesta itu layak juga kamu lakukan. Bener lho. Karena yang jelas, pesta ini tidak ada sangkut pautnya dengan ajaran Islam, bahkan ada juga kalangan Nasrani yang tidak suka dengan pesta ini.

Mau tahu pendapat mereka? Menurut mereka, hari valentine tidak ada hubungannya dengan keimanan kaum Nasrani. Menurut Ken Sweiger yang menulis artikel “Should Biblical Christians Observe It?” (www.korrnet.org) kata “Valentine” berasal dari bahasa Latin yang berarti: “yang maha perkasa, yang maha kuat dan yang maha kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Jadi, sama sekali tidak ada hubungan dengan agama Nasrani. (Permata, Edisi 21/VIII Pebruari 2004).

Menurut The World Book Encyclopedia, ada beberapa sumber yang menjelaskan asal-muasal hari valentine ini. Salah satu sumber mengacu pada pesta yang dilakukan oleh orang-orang Romawi kuno yang disebut dengan Pesta Lupercalia. Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi kuno yang dimulai 13-18 Februari. Dua hari pertama dipersembahkan untuk dewi cinta yang bernama Juno Februata. Dalam dua hari ini para pemuda mengundi nama-nama gadis di dalam kotak dan yang keluar namanya harus menjadi pasangannya  selama setahun untuk bersenang-senang (!). Selanjutnya pada tanggal 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan serigala. Selama upacara ini kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut dengan anggapan lecutan itu membuat mereka menjadi lebih subur (!).

Sumber lainnya menyebutkan bahwa lahirnya perayaan ini dihubungkan dengan kepercayaan Inggris kuno yang mengilhami kebiasaan burung-burung mencari pasangannya pada tanggal 14 Februari. Kebiasaan musim kawin burung-burung muncul ketika the Duke of Orleans dipenjara di Tower of London mengenang hari valentine dan mengirimkan puisi kepada istrinya di Perancis dan selanjutnya Geoffrey Chaucher (penyair kenamaan Inggris) mengaitkannya dengan musim kawin burung dalam karya-karya puisinya. Juga dalam kepercayaang orang Eropa bahwa waktu “kasih sayang” itu mulai bersemi bagai “burung dan jantan dan betina” pada tanggal 14 Februari.

Sejak abad 16 M, hari valentine kemudian dihubungkan dengan pesta jamuan kasih sayang bangsa Romawi kuno yang disebut “Supercalis” yang jatuh pada tanggal 14 Februari. Dalam bahasa Perancis Normandia, pada abad pertengahan (abad terjadi pergeseran makna Valentine) terdapat sebuah kata yaitu “galentine” yang berarti “galant” atau cinta.  Sehingga persamaan bunyi galentine dan valentine menyebabkan orang berfikir bahwa sebaiknya para pemuda mencari pasangan hidupnya pada tanggal 14 Februari. Dan dengan berkembangnya zaman, hari Valentine makin tidak diketahui hakikatnya. Saat ini umumnya orang-orang mengenal Valentine sebagai momen untuk tukar menukar hadiah, mengirim kartu ucapan salam, tanpa mengetahui latar belakangnya lebih dari 1700 tahun lalu.

Bahkan saat ini beredar kartu-kartu perayaan keagamaan ini dengan gambar anak kecil dengan dua sayap terbang mengitari gambar hati sambil mengarahkan anak panah ke arah hati yang sebenarnya merupakan lambang tuhan cinta bagi orang-orang Romawi.

Alhamdulillah, kita mempunyai pengganti yang jauh lebih baik dari itu semua, sehingga kita tidak perlu meniru dan menyerupai mereka. Di antaranya, bahwa dalam pandangan kita, seorang ibu mempunyai kedudukan yang agung, kita bisa mempersembahkan itu kepadanya dari waktu ke waktu, demikian pula untuk ayah, saudara, suami, dst, tapi hal itu tidak kita lakukan khusus.

Semoga Allah senantiasa menjadikan hidup kita penuh dengan kecintaan dan kasih sayang yang tulus, yang menjadi jembatan untuk masuk ke dalam Surga yang hamparannya seluas Langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Semoga Allah menjadikan kita termasuk dalam golongan orang-orang yang disebutkan: “Kecintaan-Ku adalah bagi mereka yang saling mencintai karena Aku, yang saling mengunjungi karena Aku dan yang saling berkorban karena Aku.” (Al-Hadits).

Cobalah kamu buka al-Quran, kitab-kitab hadits, dan juga fiqh. Tidak ada anjuran untuk merayakan valentine. Sebaliknya, malah dilarang. Misalnya dalam firman Allah Swt.:

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS al-An’am [6]: 116)

Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja yang menyerupai suatu kaum (gaya hidup dan adat istia-datnya), maka mereka termasuk golongan tersebut.” (HR Abu Daud dan Imam Ahmad dari Ibnu Umar)

Nah, apalagi gelaran Valentine itu sering berubah jadi ajang seks bebas yang sepertinya dilegalkan. Awalnya cinta-cintaan, mulanya sayang-sayangan, eh ujungnya langsung ‘banting-bantingan…’

Seorang pakar di Inggris menganjurkan seks di hari Valentine. Seperti yang ditulis Kantor Berita Reuter bahwa Direktur British Heart Foundation, Prof. Charles George mengatakan bahwa seks tidak saja membakar 100 kalori tapi juga baik untuk kesehatan. Maka ia berharap agar masyarakat Inggris, tua dan muda, mengisi Valentine dengan aktivitas seksual. Pernyataan itu disampaikannya dalam sebuah pesan Valentinenya. (Permata, 21/VIII Pebruari 2004).

Padahal itu bertentangan dengan temuan para pakar kesehatan dan juga dengan Firman Allah Swt:

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS al-Israa [17]: 32)

Inget, jangan nodai cinta kamu dengan aktivitas Valentine, ihhh ngeri deh. Lagian sudah jelas, kalau Valentine ternyata acapkali dijadikan simbol kebebasan seks juga. Gaswat euy!

Ikut pesta Valentine? Nggak ah!

(Dari berbagai sumber)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: