Oleh: Jauhari | Januari 2, 2012

DURI-DURI YANG MENGHARAP

Pengarang: tidak diketahui

“Huk…huk…huk…”
Seorang lelaki separuh baya melangkah tertatih ke arah warung Pak Heru. Kulit hitamnya yang keriput penuh terbanjiri keringat. Terdengar dari mulutnya suara batuk-batuk berat.
” Djarum satu bungkus Mas, ” Pak Heru begegas mengambil satu bungkus rokok Djarum. Kulihat senyum Djarum merekah.
“Huk…huk…huk…” kembali terdengar suara batuk dari mulut si lelaki tua. Kemudian ia mulai menyalakan satu batangnya. Asap Djarum membumbung tinggi. Dengan tenang dihisapnya sebatang, dua batang, tiga batang dan…
puntung-puntung Djarum pun berserakan di sekelilingnya.
Si kakek berusaha bangkit dan…, brukk!!! Ia terjatuh tertelungkup ke tanah, ku lihat ada tetesan darah keluar dari mulutnya yang menghitam. Tangannya menggapai-gapai minta pertolongan. Pak Heru bergegas bangkit dan membantunya berdiri. Wajahnya yang hitam terlihat pucat lesu, menyedihkan. Tapi, ironisnya tak ada sedikitpun rasa belas kasihan dalam diriku, bahkan aku merasa mendapatkan lagi kepuasan itu. Yah! Aku benar-benar merasa bangga ketika korbanku berjatuhan. Poinku bertambah.

****
Tidak ada kebahagian yang lebih membahagiakan bagiku dan teman-teman kecuali ketika ada yang membuat, menjual, membeli, dan menghisap kami. Belaian asap kami yang membentuk bulatan-bulatan kecil menciptakan ketenangan, kesenangan, membangkitkan gairah, dan juga tak jarang bisa merenggut nyawa, menorehkan kematian.
Kami masih terus berusaha bangkit dalam melancarkan aksi memenebarkan racun itu, melanjutkan petualangan pada siapa saja yang rela membakar uang dengan sia-sia demi mendapatkan kesenangan dari kami, lelaki atau perempuan. Dewasa, remaja, mahasiswa, pelajar, bahkan tak jarang anak-anak kecil pun mencoba bergelut bersama kami. Kata mereka, di kala dingin, kami sebagai selimut yang menghangatkan. Di kala panas, kami penyegar hidup, “menjadikan hidup lebih hidup”. Begitu bunyi salah satu sponsor perusahaan kami.
Ha…ha…ha…manusia bodoh, memang konyol! Terkadang aku tak habis pikir kenapa mereka mau bersahabat dengan barang perusak seperti kami! Apakah kami betul-betul memuaskan?! Bahkan manusia enggan berpuasa demi kami. Poin kami kembali bertambah. Dengan bangga kami mendapatkan kemenangan itu kembali.
****
Udara malam itu berhembus perlahan, bintang-bintang gemarlap di cakwarala memberikan setitik sinar bagi rumah-rumah penduduk desa. Bintang yang membawa kesepian cinta. Di kejauhan terdengar suara lolongan anjing yang menyayat hati.
Di sebuah rumah mungil. Di bawah temaram lampu lima watt.
“Hik…hik…hik…” terdengar suara tangisan tertahan.
” Lukman, ibu melarangmu merokok karena ibu sangat menyayangimu nak”
“Coba kamu pikirkan! Apa keuntungan yang kamu dapat dari merokok? Barang itu perusak Nak, pembawa penyakit!” Tangannya menunjuk ke arahku yang tergeletak tak berdaya di atas meja, mukaku merah padam menahan marah, baru kali ini aku merasa sangat terhina.
“Awas ya, ” Ancam batinku, gigiku gemertak dongkol.
“Jawab Lukman, Apa manfaat rokok itu?” Ku lihat Lukman tertunduk takut mencoba berfikir. Aku berharap Lukman berbicara dan membelaku. Namun dugaanku salah total. Lukman menggeleng sedih.
” Tidak ada bu!”
” Sekarang terserah kamu. Ibu yakin kamu sudah besar, sudah bisa membedakan mana yang membawa manfaat dan mana yang mendatangkan mudharat. Pikirkan! Ibu tidak mau nasibmu sama seperti almarhum Bapak…” Ku lihat wajah Ibu dan Lukman tertunduk sedih. Lukman mengisak perlahan.
Yah, benar. Ayah Lukman meninggal disebabkan ulahku. Secara perlahan ku gerogoti paru-parunya hingga membentuk lobang-lobang maut. Aku tersenyum senang mengenang memori itu.
” Bu, Lukman janji tidak akan menyentuh barang itu lagi.” Jawab Lukman tegas.
Deggg !!! Jantungku berdegup kencang ketika mendengar ucapan Lukman. Belum hilang rasa kagetku, Lukman mengangkat tubuhku dan…
Bukk!!! Gelap dan bau, aku sudah berada dalam kotak pembuangan sampah. Aku menyumpah serapah dalam hati.
” Awas kau Lukman!!! ” Aku berjanji akan mencari Lukman bodoh lainnya, akan kutaburkan kembali butir-butir keindahanku. Lebih dahsyat!!!” Senyumku kembali merekah.
****
Langit masih tetap berdiri kokoh, bumi berputar dengan indah, pohon-pohon bernyanyi riang ditemani beberapa burung merpati.
Mereka tetap melaksanakan rutinitas seperti biasanya, mengoreskan keindahan pencipta-Nya. Kami pun masih tetap dengan tugas kami, menunggu tanpa kenal lelah dan letih. Menemani pelanggan kami di berbagai macam tempat. Di temaram lampu diskotik, kantor, super market, jalanan, rumah, sekolah dan…
Siang itu, tanpa diduga…
” Teman-teman, apakah kalian pernah merasa bersalah pada manusia ” Tiba-tiba Nikki meluncurkan pertanyaan itu. Kami hanya diam dalam kebingungan. Ku lihat dari sinar matanya ada keseriusan di sana. Naluriku ikut tersentuh walau masih dalam kebingungan.
” Maksudnya apa Nikk?! ” Aku mencoba merespon kata hatinya.
” Akhir-akhir ini, aku merasakan sesuatu yang janggal, dan merasa bersalah. Batinku berontak.”
Ia menarik nafas berat.
” Kenapa kita diciptakan manusia sebagai benda pembawa penyakit dan kematian?! Kenapa bukan seperti sabun itu.” Sabun Lux dan Lifebuoy yang merasa dipuji tertunduk malu, wajahnya bersemu merah.
” Coba lihat, banyak sekali fenomena yang diakibatkan ulah kita. Penyakit, kematian dan…
“Alaah! Kenapa kau berpikir sejauh itu, kitakan cuma melaksanakan tugas. So whats wrong?! Djie Sam Soe mencoba menjawab, menepis kegalauan hati.
Kami mengangguk setuju
” Aku tahu friend, tapi kalo boleh aku berandai-andai. Aku tak mau lagi diciptakan seperti ini, aku tidak ingin membawa mudharat! ” Kami jadi diam seribu bahasa.
Ku garuk kepalaku yang tak gatal. Sesaat suasana menjadi hening.
” Terus, gimana solusinya? ” Djarum bertanya antusias
Semua diam dalam kebingungan.
” Yah, kita hanya bisa berharap semoga manusia sadar dengan sendirinya dan ada yang melegitimasi perbuatan kita ini ” Jawabku singkat. Semua kepala mengangguk setuju.
Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara deruman suara motor. Tiga orang pemuda berseragam putih abu-abu mendekati warung Pak Heru. Jantung kami berdegup kencang. Semoga…
” Marlboro tiga bungkus pak! ” Pinta lelaki bertubuh tinggi kurus. Aku hanya bisa tertunduk sedih. Perang batin berkecamuk, galau… Akhirnya kulayani pelangganku dengan setengah hati. Yang lain hanya bisa memandangku iba. Kembali terlihat kepulan asapku menggeliat-geliat diterpa panasnya udara siang itu. Namun udara panas yang menggila terasa begitu sejuk. Sesejuk hati-hati kami. Meskipun dalam ketidakberdayaan, Naluri kami masih bisa merasakan dan berkata, betapa tidak enaknya menjadi beban bagi orang lain.”
Tapi apa mau dikata ini takdir yang disiratkan. Beginilah geliat kehidupan. Pekerjaan ini masih harus tetap kami lakoni sampai ada manusia yang benar-benar sadar dengan kekonyolan dan kesalahan asumsi yang mereka pegang. Yah, semoga mereka mampu lebih berfikir menggunakan nurani dan rasio yang telah dikaruniakan. Kami hanya mampu merajut sebuah harapan…Semoga semua perokok di dunia ini bertekad bulat lantang berkata,
“NO SMOKING!!!”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: