Oleh: Jauhari | Januari 1, 2012

Statistika Bukan Matematika

Matematika sebagai ilmu, berkembang dengan pesat sehingga tak salah jika disebut sebagai ratunya ilmu (the Queen of Science). Secara sederhana, matematika terbagi menjadi dua cabang, yaitu matematika murni dan matematika terapan. Matematika murni yakni analisis, aljabar, dll. Sedangkan matematika terapan seperti komputasi, statistika, dll.
Namun, statistika dalam perkembangannya berbeda jauh dengan aturan-aturan matematika itu sendiri. Jika dalam matematika sesuatu disebut benar bila 100% benar, tidak boleh ada cacat sedikitpun, atau jika ada kegagalan walau sekecil 0,00000000000000001% sekalipun, sesuatu kebenaran langsung gugur. Namun dalam statistika, kesalahan masih bisa ditoleransi sampai batas sekitar 10%. Sehingga statistika tidak menuntut kesempurnaan sebagaimana matematika umumnya. Ini yang mengakinbatkan ada celah-celah tertentu yang mengakibatkan kadang-kadang hasil penelitian statistika tidak bisa dengan tepat menjawab masalah yang muncul.

Dariel Huff pernah menulis buku yang mencengangkan, How to Lie with Statistic (bagaimana berbohong dengan statistik). Melalui buku ini, Huff menunjukkan bahwa statistika bisa (atau malah seringkali?) menjadi alat berbohong kepada publik yang sangat efektif. Ada beberapa sebab:
1. peneliti tidak cermat menganalisis,
2. peneliti gegabah mengambil kesimpulan,
3. tidak mencoba menggali lebih jauh apa yang ada di balik fakta.
Huff juga menunjukkan berbagai peluang kebohongan. Kalau tidak hati-hati, kita bisa keliru menggunakan data. Kita telan mentah-mentah data yang disajikan beserta kesimpulannya. Padahal, banyak masalah yang perlu kita cermati lebih lanjut. Banyak pertanyaan yang harus kita ajukan secara cerdas.
Bagi kita yang begitu percaya pada data statistik tanpa mempertanyakan sedikitpun, boleh jadi kaget ketika membaca uraian Dariel Huff. Kita tercengang membaca karya ahli statistika ini. Justru karena pengetahuannya yang sangat mendalam pada bidang statistika itulah, ia bisa melahirkan tulisan yang sangat mengejutkan tersebut.
Bicara tentang statistik, Disraeli lebih sinis lagi. Ia mengatakan, di dunia ini cuma ada tiga macam kebohongan: lies, damned lies, and statistic (dusta, dusta yang keji, dan statistika). Data statistika yang termasuk kategori dusta, kerap kali muncul pada pseudo-research (penelitian semu).
Ada tiga macam penelitian; common sense research, purposive research, dan academic research. Di antara ketiga jenis tersebut, academic research atau disebut juga scientific research merupakan penelitian yang paling dapat dipercaya. Common sense research (penelitian anggapan umum) jelas termasuk pseudo-research. Meskipun datanya dapat dilihat sebagai masukan awal untuk melihat fenomena sosial, tetapi hasil penelitian tidak bisa dipakai untuk membuat kesimpulan tentang realitas sosial yang ada.
Penelitian yang menunjukkan bahwa 97,05% perempuan Yogya sudah tidak perawan lagi, termasuk contoh common sense research. Sekurangnya ada dua kemungkinan munculnya data seperti ini:
1. Peneliti melakukan manipulasi data. Manipulasi ini bisa berbentuk menyortir data yang tidak diinginkan, menyembunyikan data lain yang dibutuhkan, mendongkrak (mark up) data yang ada, atau memang secara selektif memilih subjek yang sangat potensial bermasalah.
2. Peneliti tidak terlalu menguasai metodologi penelitian sehingga salah dalam mengambil sampel atau tidak memiliki penguasaan logika yang baik.
Kemungkinan pertama termasuk kekejian, kejahatan akademis, dan sekaligus penghinaan terhadap martabat kaum muslimah di Yogya. Sedangkan, kemungkinan kedua termasuk kebodohan yang perlu kita kasihani. Katakanlah data yang diungkapkannya benar, tetap saja ada masalah kekeliruan logika. Sumber data yang diambil sebagai sampel, populasinya sangat kecil, tetapi tiba-tiba digeneralisasi sebagai realitas wanita Yogya.
Jadi, menggunakan data statistik perlu cerdas. Hasil penelitian yang disajikan kepada kita harus ditanyakan, apakah secara metodologis benar? Kalau benar, apakah secara logika juga benar? Bisa saja secara metodologis benar, tetapi secara logika salah.
(dari berbagai sumber dan pendapat penulis)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: